Setelah pada awal Maret 2014 Situs Calonarang di Dusun Butuh Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri dirusak, kejadian serupa juga kembali terjadi pada Sabtu petang (22/7). Kabar perusakan baru berkembang di masyarakat pada hari Minggu siang (23/7).

Perusakan yang dilakukan selain tulisan di marmer juga lebih pada peringatan agar jangan digunakan sebagai tempat sembahyang atau memuja. Si perusak menulis ‘Ini bukan tempat di puja, Ingat Allah murka seperti Aceh, Sunami’.

“Protes ini bisa dimaklumi, sebab sebenarnya yang membangun hingga menjadi tempat pemujaan itu adalah juru kunci situs yakni Suyono. Di mana pada 4 Maret 2014 kita telah peringatkan agar tidak melakukan pembangunan di situs Calonarang dalam bentuk apapun,” kata Kepala Bidang Sejarah Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Eko Budi Santoso.

Masih menurut Eko, pihak Pemkab Kediri dari dulu masih terkendala untuk status tanah yang menjadi tempat keberadaan Situs Calonarang. “Karena belum jelas, maka kita belum bisa melakukan perawatan secara baik,” ungkapnya.

Atas kejadian ini menurut Eko, pihaknya akan bekerjasama dengan pihak desa dan kecamatan akan mengembalikan situs sesuai aslinya. Sehingga permasalahan yang ada dan berkembang di masyarakat tidak membesar.

“Dalam waktu dekat setelah beberapa kali kejadian, kita akan kembalikan situs seperti awalnya dan tidak ada bangunan apapun dan akan kita pagar dengan kawat berduri. Sebab ini situs sejarah yang harus dilindungi sesuai undang-undang. Selain itu kita akan mengusulkan mengganti juru pelihara (jupel) yang ternyata kunci pembuat onar,” tandasnya.

Menurut data penelitian di Situs Calonarang sejak tahun 1999, sebelum dilakukan pembangunan oleh Suyono, di lokasi situs terdapat dua ambang pintu dari bahan batu andesit. Ambang pintu pertama berukuran, panjang 135 cm, lebar 56 cm dan tebal 29 cm. Ambang pintu kedua berukuran panjang 137 cm, lebar 38 cm dan tebal 23 cm.

Selain itu juga terdapat 4 buah umpak dari bahan batu andesit yang rata-rata berukuran sekitar panjang bawah 50 cm, panjang atas 45 cm, lebar bawah 50 cm, lebar atas 45 cm dan tinggi sekitar 50 cm.

Keempat umpak batu berbentuk prisma itu diperkirakan merupakan pondasi penyangga empat sudut rumah. Selain itu juga terdapat dua buah balok batu dari bahan batu andesit dengan ukuran, batu pertama dengan panjang 62 cm, lebar 40 cm dan tebal 17 cm. Batu kedua dengan panjang 67 cm, lebar 47 cm dan tebal 18 cm. Kesemuannya itu saat ini dijadikan satu menjadi satu bangunan dengan meninggal semua bentuk aslinya.

Seperti diketahui Calon Arang merupakan kisah berdasarkan Serat Calonarang yang ditulis pada abad ke-12. Serat Calonarang mengisahkan tentang seorang janda yang hidup di Desa Girah ( Gurah, Kediri). Calonarang memiliki putri cantik Ratna Manggali. Kekejaman Calonarang yang sering merusak panen membuat Ratna Manggali sulit mendapat jodoh.

Calonarang marah hingga menculik gadis muda untuk dikorbankan ke Dewi Durga. Datang banjir hingga menewaskan banyak warga. Raja Airlangga lantas mengutus Empu Baradah untuk menyelesaikan masalah ini. Empu Baradah lalu menikahkan muridnya dengan Ratna Manggali. Rupanya menantu mencuri kitab sihir hingga Calonarang marah dan bertarung dengan Empu Baradah yang berujung tewasya Calonarang.

Berikan Komentarmu