Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menyesalkan pernikahan nenek Rohaya berusia 71 tahun dengan Slamet Riyadi, remaja 16 tahun. Apalagi kondisi mempelai pria terhitung masih di bawah umur.

“Keduanya mengancam bunuh diri jika tidak dinikahkan. Lah wong sudah cinta mati,” kata Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Haflah Akhirus Sanah di Yayasan Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Hidayatus Salam, Lowayu, Dukun, Gresik, Jawa Timur, Pada hari Kamis (6/7).

Karena tekad sudah bulat untuk hidup semati, meski sempat ditentang keluarga kedua belah pihak, ijab kabul akhirnya digelar pada hari Minggu (2/7). Pernikahan bawah tangan alias nikah siri digelar di kediaman Kuswoyo, Ketua RT I, Dusun I, Desa Karangendah, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan.

Video pernikahan dua orang beda usia, selisih 55 tahun tersebut menjadi viral. Tersebar berantai melalui berbagai jejaring media sosial dan aplikasi chating.

“Kita (kemensos) sudah bentuk tim untuk mengecek, apakah mereka memiliki buku nikah atau tidak. Kalau menikah melalui Kantor Urusan Agama (KUA) jelas tidak mungkin. Karena mempelai prianya masih di bawah umur,” ungkap Khofifah.

Si Bunda Muslimat NU ini menegaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 1/1974, batas perkawinan minimal bagi pria adalah 19 tahun. Sedangkan untuk perempuan, itu 16 tahun.

Artinya, lanjut Khofifah, bahwa setiap pria dan wanita yang belum mencapai batasan umur seperti ditetapkan, tidak boleh melangsungkan perkawinan. “Kecuali atas permohonan keluarga ke pengadilan untuk diizinkan.”

Pembatasan ini, masih kata Mensos, dimaksudkan agar, setiap anak mendapatkan perlindungan dalam pemenuhan hak dasarnya. Terutama hak untuk mendapatkan pendidikan.

Tak cukup itu, setiap orang yang akan menikah wajib memiliki kematangan berpikir, kematangan jiwa dan kekuatan fisik untuk memenuhi tugas dan kewajiban dalam berumah tangga.

“Dalam Undang-Undang Perkawinan juga disebutkan bahwa, pegawai pencatat pernikahan tidak diperbolehkan melangsungkan, atau membantu melangsungkan perkawinan bila mengetahui antara lain, adanya pelanggaran dari ketentuan batas umur minimum pernikahan,” paparnya.

Dalam kasus Slamet dan Rohaya, kata Khofifah, bisa jadi si laki-laki yang masih berstatus anak ini, belum matang betul saat harus menyandang status dan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.

“Rentang usia terpaut jauh bukan soal. Namanya juga jodoh. Tapi ini soal pengantin pria yang masih dikategorikan anak dan masih di bawah umur,” imbuhnya.

Khofifah juga mengungkap, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Hal ini dimaksudkan, agar edukasi kepada orang tua dan masyarakat bisa lebih luas lagi. Sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.

“Dalam Undang-Undang 35/2014 tentang perubahan atas Undang-Undang 23/2002, tentang perlindungan anak, Pasal 26 ayat (1) butir (c) disebutkan, orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak,” tandasnya.

Berikan Komentarmu